Ramadhan ist schon gekommen, darauf wir schon gefreut haben. 19 Stunden Fasten in Ramadhan habe ich noch nicht in meinem Leben erlebt, außer in Deutschland. Ehrlich zu sagen, am Anfang war es bestimmt schwierig anzufangen. Nicht nur wegen der Zeit, sondern auch wegen der Gewöhnung. Ohne meine Mutter im Sahur mir aufzuwachen, ist es am schlimmsten. Infolgedessen musste ich ungefähr 21 Stunden fasten, weil ich mich selber nicht kümmern kann..
Und Tarawih, endlich konnte ich in dem vierten Tag des Tarawihs schaffen. Tarawih fand gegen um 23 Uhr statt, und am spätestens für Sahur ist um 3.30. In Ingolstadt gibt es 7 Moscheen, aber trotzdem sind das für mich unerreichbar wegen der Zeit und des Verkehrsmittels. weil am Abend es kein Bus zum Hauptbahnhof gibt. Deswegen musste ich mein Fahrrad auch mitnehmen, damit ich das Hauptbahnhof am Abend erreichen konnte, dann mit dem Zug fahren. Gestern war ich auch dankbar für "Buber" mit den anderen Muslime in der Moschee, feel like home , obwohl sie miteinander auf Türkisch geredet haben, aber trotzdem war ich sehr dankbar dafür..
2 paragraf di atas adalah postingan yang aku upload saat aku merasakan puasa bulan Ramadhan untuk pertama kali di negeri orang yang juga saat itu bertepatan dengan musim panas. Alhamdulillah, Allah memberikanku anugrah untuk menikmati puasa ramadhan di musim panas di negeri biru ini. Hal ini tentu saja merupakan tantangan tersendiri bagi seseorang yang biasanya melakukan puasa di negeri khatulistiwa yang tak memiliki perubahan signifikan pada durasi puasanya dan juga memiliki durasi puasa yang lebih pendek dibandingkan negara2 yang sedang mengalami musim panas.
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Kitab Syu'abul Iman (3933) dari Qatadah, bahwa Amir bin Qais menangis saat menghadapi sakratul maut. Lalu ditanyakan kepadanya tentang sebab itu. Maka dia berkata
"Aku menangis bukan karena takut kematian atau khawatir kehilangan dunia. Tapi aku menangisi zama'aul hawajir (berpuasa di musim panas) dan qiyamullail di musim dingin yang akan kutinggalkan)"
Menjalani ibadah puasa di musim panas memanglah bukanlah suatu perkara yang mudah, terlebih lagi jika muslim menjadi agama minoritas di tempat tersebut. Saya pribadi yang lahir sebagai seorang muslim dan alhamdulillah telah belajar berpuasa sejak dini terkadang masih mengeluhkan ibadah yang satu ini dan merasa berat menjalaninya. Namun Allah Maha Besar, Ia menunjukkan padaku bahwa di belahan dunia lainnya banyak yang menjalani ibadah puasa lebih berat dan panjang, yaitu orang2 yang berpuasa di musim panas, seperti halnya di negara Jerman. Mengapa demikian ? Karena waktu fajr datang sekitar pukul 3 dini hari dan tenggelam sekitar pukul 21.45 atau 22.00 sehingga menyebabkan umat muslim berpuasa selama kurang lebih 19 jam.
Hari pertama puasa terpanjangku kala itu dimulai hari Jum'at di bulan May 2017. Aku tinggal bersama keluarga Jerman yang beranggotakan 5 orang dan mereka semua non muslim yang saat taat, sehingga merekapun mampu menghargaiku untuk menjalani ibadah puasa wajibku selama satu bulan. Di hari pertama puasaku, kebetulan Chiara (anak tertua di keluarga tamuku) memiliki acara di sekolahnya seperti pentas seni dan mengundang seluruh anggota keluarga untuk datang ke acara sekolahnya. Akupun memutuskan untuk ikut datang karena bagaimanapun, alangkah indahnya jika seorang kakak turut hadir melihat penampilan adiknya di sekolah. Acara sekolah yang kebetulan di adakan di halaman sekolah lengkap sudah dengan hadirnya matahari yang menyapa kami dengan ramah di siang hari, tanpa adanya terop seperti layaknya Indonesia. Matahari merupakan sosok yang berbeda bagi masyarakat yang tinggal di negara 4 musim, berbeda bagi masyarakat di negara tropis. Mengenai tema arti matahari, akan aku bahas di tema selanjutnya.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidaklah Allah memberi perintah kecuali sesuai dengan kemampuan manusia. Dengan keyakinan tersebut, aku yakin mampu menjalani ibadah ini. Dengan bermodalkan keyakinan tersebut, aku yakin bahwa puasaku tak akan menghalangi segala aktivitasku, begitupun juga sebaliknya, aktivitasu tak akan menghalangi puasaku. Secara umum, masyarakat jerman mengetahui tentang ibadah ini, namun tidak semuanya dikarenakan islam merupakan agama yang minoritas. Host Family ku pun juga menjalani ibadah puasa selama kurang lebih 6 minggu. Namun mereka memiliki cara tersendiri dalam menjalaninya. Puasa bagi mereka yaitu puasa memakan daging dan segala sesuatu yang manis2 selama 6 minggu, namun mereka diperbolehkan makan dan minum yg lain. Mereka menghargaiku , namun juga mempertanyakan mengapa aku tidak diperbolehkan minum mulai waktu fajr datang hingga maghrib. Manusia mungkin bisa menahan makan selama 19 jam dan berpuasa dalam hal makanan juga memiliki dampak positif bagi tubuh. Namun untuk menahan minum selama itu, manusia bisa kekurangan cairan atau dehidrasi sehingga itu bisa berbahaya bagi kesehatan. Dan sayangnya, saya tidak mampu menyanggah pernyataan itu. Bagaimanapun, aku percaya bahwa ibadah puasa dan segala perintah Allah adalah yang terbaik bagi umatnya dan Allah tak akan menguji hambanya diluar kemampuan hambanya. Keyakinan itulah yang mampu menguatkanku.
Masjid2 di Indonesia begitu ramai ketika bulan ramadhan, begitupun juga dengan masjid-masjid di Jerman. Aku tinggal di kota Ingolstadt yang terletak di bagian Bayern atau Bavaria. Ingolstadt adalah kota yang terkenal karena “Audi”, salah satu merk mobil terkenal. Mungkin ini juga salah satu alasan mengapa cukup banyak masjid di kota ini. Sejauh yang aku tau, ada 7 masjid di kota ini, meskipun bangunannya tidak menyerupai masjid2 di Indonesia yang megah dan ada kubahnya. 6 masjid tak memiliki kubah dan hanya menyerupai bangunan biasa yang difungsikan di masjid dan satu masjid memiliki kubah yang megah. Tak hanya itu, menurutku, masjid ini lebih bagus dibandingkan masjid yang ada di kota besar lainnya.
Masjid ini bernama Ditib Ingolstadt Kocatepe Camii, sudah terdengar jelas dari namanya bahwa masjid ini milik komunitas orang-orang Turki. Masjid ini memiliki dapur dan tempat makan bersama. Selama bulan Ramadhan, mereka mengadakan buka puasa bersama dan sholat maghrib berjamaah. Karena aku memiliki kursus bahasa jerman malam hari sehingga aku cukup sering datang ke masjid sepulang kursus untuk berbuka bersama dan dilanjutkan sholat tarawih disana agar aku tidak merasa sendiri dan merana karena berpuasa sendirian. Karena ini masjid komunitas, tak sedikit yang menanyakan darimana aku berasal. Mungkin dikarenakan aku memiliki raut wajah yang berbeda dan juga kulit kecoklatan. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa Turki, begitupun juga dengan ceramah yang ada di masjid juga dalam bahasa Turki. Mereka menganut madzab Imam Hanafi dan aku menganut madzab Imam Syafii sehingga menyebabkan ada beberapa gerakan sholat yang berbeda, seperti mereka tidak mengangkat tangan saat I'tidhal dan tidak mengacungkan telunjuk saat tahiyat. Selain itu mereka juga tidak mengenakan mukenah seperti di Indonesia namun mengenakan baju terusan panjang lengkap dengan kaos kaki sehingga bisa mereka kenakan untuk sholat. Inilah yang membuat sebagian besar dari mereka bertanya darimana aku datang karena aku memiliki kebiasaan yang berbeda. Meskipun demikian, itu tidak menghalangi kami untuk melakukan ibadah secara bersama-sama.
Umat muslim di Jerman juga melaksanakan ibadah tarawih meskipun ibadah ini dimulai sekitar pukul 23.00. Masjid dimana saya biasa melakukan sholat tarawih melaksanakan sholat tarawih sebanyak 8 Rokaat dengan 2 kali salam, jadi tiap sholat tarawihnya terdiri dari 4 rokaat, dan ditambah sholat witir 3 rokaat seusai sholat tarawih. Saya pernah membaca sebuah artikel di internet yang menyatakan bahwa beberapa masjid menjalankan sholat Isya segera setelah sholat magrib. Hal ini dimaklumi karena pendeknya waktu malam. Sesuai dengan fatwa ECFR (European Council for Fatwa and Research), sholat Isya dapat dikerjakan pada waktu Magrib saat musim panas jika waktu sholat Isya lewat dari pukul 23.00. Namun masjid tempat saya melakukan sholat tarawih tetap melaksanakan sholat sesuai dengan jadwal yang seharusnya, MasyaAllah :-).
Dikarenakan kereta terakhir menuju rumah datang pukul 23.35 dan dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk berjalan kaki dari masjid ke stasiun atau 7 menit dengan menggunakan sepeda, akhirnya aku tidak pernah ikut serta hingga sholat witir. Jika mengingat saat-saat bulan Ramadhan pertama di Jerman, aku merasa Allah begitu menyayangiku karena menganugerahiku suatu kesempatan yang sungguh luar biasa. Berjalan sendirian di tengah malam di atas jam 11 malam dan berusaha berjalan secepat mungkin agar aku tidak tertinggal kereta terakhirku, karena jika aku tertinggal, aku tak memiliki siapa2 lagi yang bisa mengantarkanku ke rumah. 25 menit perjalanan yang mungkin kuhabiskan dengan kereta api hingga stasiun di kampungku, setelah itu aku masih membutuhkan waktu 10 menit untuk berjalan kaki hingga ke rumah. Tibalah aku di rumah sekitar pukul 00.00 dan waktu fajr datang sekitar pukul 03.00. Aku hampir tak pernah bangun untuk melaksanakan sahur karena rasa lelah dan kantuk yang mengalahkan keinginanku untuk sahur. Beruntunglah orang-orang yang tempat tinggalnya dekat masjid.
Berpuasa di Jerman ini juga merupakan dakwah. Ini menunjukkan kepada masyarakat umum di Jerman bahwa perintah-perintah dalam agama Islam bisa seiring dengan aktivitas belajar, bekerja, atau aktivitas lainnya. Jadi, berpuasa di Jerman juga merupakan salah satu bentuk dakwah bahwa ibadah-ibadah dalam Islam dapat dijalankan apa pun kondisinya. Aku tetap melaksanakan aktivitas2ku seperti biasa yang dimulai pukul 07.00 hingga 19.30 , menghabiskan waktu bersama 3 adik angkat super aktif di musim panas bukanlah perkara yang mudah karena anak2 Jerman selalu bermain di bawah matahari. Yaa, matahari yang hampir selalu bersinar sepanjang hari di musim panas yang membuat rasa haus benar-benar melandaku. Tapi aku bangga karena aku pernah menikmatinya. :-)
Bumi berotasi tidak selalu lurus. Hal ini menyebabkan bumi mengalami 4 musim. Saat musim panas, waktu siang akan berjalan lebih lama dan sebaliknya ketika musim dingin, malam akan menjadi lebih panjang. Musim panas di negara Eropa dan Amerika Utara membuat matahari di negara tersebut bersinar lebih lama. Ini bukan perkara mudah bagi mereka yang harus berjuang dengan ibadahnya di tengah cuaca ekstrim seperti ini. Namun bagi negara yang memiliki 4 musim, mereka akan mengalami musim Ramadhan dalam berbagai musim. Jika saat ini masyarakat muslim di Jerman melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan selama 19 jam di musim panas, maka dalam 4 tahun mendatang mereka akan menikmati bulan ramadhan di musim semi dan dalam waktu kurang lebih 8-10 tahun lagi, mereka akan menikmati bulan ramadhan di musim dingin yang artinya, waktu fajr datang sekitar pukul 07.00 dan maghrib datang pukul 17.00. Sungguh betapa besar kuasa Allah.Kita muslim yang tinggal di negara beriklim tropis beruntung memiliki waktu berpuasa yang relatif lebih pendek, hanya 13 Jam. Waktu yang singkat dengan iklim yang sejuk itu menjadi keuntungan.
Selain waktu puasa yang panjang saat, masih ada tantangan berat lagi ketika kita menjalani puasa di Eropa saat musim panas. Suasana yang kurang mendukung seperti cara berpakaian orang barat yang sangat terbuka tentunya sedikit mengganggu kekusyukan saya dalam beribadah puasa. Hal ini saya dapat memakluminya karena selama 3 musim lainnya mereka harus mengenakan berbagai macam jaket sesuai suhu di hari itu sehingga ketika datang matahari dan musim panas, mereka akan menikmatinya dengan cara berpakaian terbuka dan berjemur dimanapun, seperti di taman kota atau di pinggir sungai dll.
Di tengah-tengah bulan Ramadhan 2017, terdapat 2 minggu libur Pfingsferien. Selama Pfingsferien aku dan keluarga angkatku melakukan perjalanan wisata ke berbagai negara di Eropa Atas seperti Swedia, Denmark, Finlandia, Rusia, Polandia dll yang tentunya memiliki siang lebih panjang. Kala itu, di tengah lautan aku memandang luas samudra dan masih melihat cahaya hingga tengah malam, matahri terbenam sejenak dan tak lama kemudian dia mulai menampakkan dirinya kembali. Akupun sempat berbincang dengan karyawan kapal yang bekerja sebagai koki masak dan dia masih kukuh melaksanakan ibadah puasanya meskipun seharian bekerja dengan makanan, MasyaAllah.. Sungguh benar-benar pribadi yang memiliki iman kuat.
![]() |
| Pukul 00.00 di lautan Ostsee dekat Rusia |
Gimana cerita summer Ramadan teman-teman? Ada pengalaman atau tips selama puasa? Semoga ibadah kita diterima dan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT. Aamiin





A very nice story... Please keep writing!! ^^
ReplyDeleteSedang belajar kakakkk... Makasih ya.. :-*
Delete